INFORMASI OTOMOTIF sedang menghadapi ujian besar di tengah pergeseran menuju kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan otomasi yang semakin masif. Perubahan ini tidak hanya mengubah cara produksi, tetapi juga berdampak langsung pada hampir satu juta tenaga kerja yang bergantung pada sektor tersebut.
Di satu sisi, industri dituntut tetap kompetitif di tengah persaingan global, namun di sisi lain muncul pertanyaan krusial, bagaimana memastikan pekerja tak tertinggal dalam gelombang transformasi tersebut?

Direktur Industri Otomotif dan Dirgantara IndustriALL Global Union, Georg Leutert, dalam diskusi podcast Future of Work yang digagas International Labour Organization menegaskan bahwa praktik bisnis bertanggung jawab atau responsible business conduct (RBC) menjadi fondasi penting.
Menurut dia, RBC bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan, tetapi mencakup keterbukaan perusahaan terhadap keberadaan serikat pekerja, dialog yang konstruktif, serta negosiasi yang adil.
“Intinya adalah menciptakan komunikasi berkelanjutan antara manajemen dan pekerja untuk mencari solusi bersama,”
Pandangan serupa disampaikan Wakil Presiden AutoAlliance Thailand, Sathirayuth Sangsuwan yang menyebut RBC sebagai bentuk kolaborasi yang menekankan transparansi, kepercayaan, dan hubungan industrial yang berkelanjutan.
Dalam praktiknya, perusahaan secara rutin membagikan target produksi kepada karyawan dan serikat pekerja, sekaligus membuka ruang diskusi untuk menyepakati langkah strategis.
AutoAlliance Thailand, perusahaan patungan antara Ford Motor Company dan Mazda Motor Corporation, menargetkan produksi sekitar 150.000 unit per tahun. Target tersebut kemudian dipecah secara rinci hingga ke perencanaan bulanan dan disampaikan secara transparan kepada seluruh karyawan.

Langkah ini dinilai mampu memperkuat kepercayaan sekaligus mendorong pencapaian target secara kolektif. Di tingkat global, dampak transisi menuju EV sudah mulai terasa.
Leutert mengungkapkan, di sejumlah negara maju seperti Jerman dan Amerika Serikat, puluhan ribu pekerja otomotif kehilangan pekerjaan akibat pergeseran ke kendaraan listrik yang memiliki komponen lebih sederhana.
Maka, kondisi ini tidak bisa hanya diselesaikan melalui kompensasi finansial. Diperlukan strategi jangka panjang berupa pelatihan ulang (reskilling) dan peningkatan keterampilan (upskilling), agar pekerja dapat beradaptasi dengan kebutuhan industri baru.
“Pekerjaan yang hilang kemungkinan besar tidak akan kembali, sehingga pekerja harus dipersiapkan untuk peluang di sektor lain,”