INFORMASI OTOMOTIF Gelaran Indonesia International Motor Show (IIMS) pada awal Februari 2026 kembali menunjukkan bahwa industri otomotif Indonesia masih bergeliat. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, industri otomotif berperan penting karena mampu menciptakan nilai tambah, menyerap tenaga kerja, dan memperkuat investasi di dalam negeri. Sepanjang 2025, industri otomotif disebut menyerap sekitar 99.700 tenaga kerja langsung dengan total nilai investasi mencapai Rp 194,22 triliun.
“Kontribusi tersebut terbukti efektif dalam memperkuat struktur manufaktur dalam negeri,” Signifikansi peran sektor otomotif juga terlihat dari kontribusinya terhadap perekonomian nasional.
Dikutip dari situs Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), industri otomotif menyumbang 1,28 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada triwulan III-2025, serta rata-rata 7,6 persen terhadap PDB manufaktur nonmigas dalam lima tahun terakhir. Sayangnya, di balik kontribusi itu, industri otomotif Tanah Air menghadapi berbagai tantangan, baik secara global maupun nasional.
Secara global, industri tersebut berhadapan dengan problem penguasaan energi. Data menunjukkan bahwa China menguasai sekitar 70 persen produksi rare earth dunia dan 90 persen pemurniannya. Dalam waktu yang sama, permintaan litium global diproyeksikan naik 3,5 kali lipat pada 2030 dan 6,5 kali lipat pada 2034.
Tekanan lain datang dari rantai pasok semikonduktor. Cip kini menjadi komponen penting kendaraan modern, sementara tensi geopolitik membuat pasokannya makin rentan. Daya beli masih menahan pasar mobil baru Di tengah tekanan global, industri otomotif Indonesia juga menghadapi persoalan di pasar domestik. Tantangan utamanya bukan lagi minat beli, melainkan keterjangkauan.
Studi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) yang dirilis pada awal 2026 menunjukkan, penjualan mobil baru telah turun signifikan dari puncaknya sekitar 1,22 juta unit pada 2013 menjadi sekitar 866.000 unit pada 2024. Pada saat yang sama, pangsa mobil bekas telah mencapai 67,5 persen pada 2024, melampaui pangsa mobil baru yang tinggal 32,5 persen.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa pasar otomotif Indonesia sebenarnya tidak hilang, tetapi bergeser. Ketika harga mobil baru makin sulit dijangkau, konsumen cenderung menunda pembelian atau berpindah ke pasar mobil bekas. Dengan kata lain, tantangan sektor otomotif bukan lagi sekadar menaikkan penjualan, melainkan bagaimana memperluas kembali pasar mobil baru yang tertahan oleh persoalan keterjangkauan.

Ketika pasar melemah, ekosistem ikut terguncang Pelemahan pasar mobil baru tidak berhenti di dealer atau ruang pamer. Dampaknya langsung menjalar ke industri komponen dan lapisan industri lain yang menopang sektor ini, penurunan penjualan mobil telah memicu gelombang efisiensi hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor otomotif, terutama di industri komponen.
Fenomena itu memperlihatkan bahwa setiap koreksi di pasar kendaraan langsung berdampak pada perusahaan pemasok yang berada di belakang pabrikan utama. Artinya, ketika pasar mobil melambat, yang dipertaruhkan tidak hanya penjualan kendaraan, tetapi juga keberlangsungan jaringan industri, tenaga kerja, dan kapasitas produksi yang sudah dibangun bertahun-tahun.
Rantai pasok lokal menjadi kunci Dalam situasi seperti ini, kekuatan rantai pasok lokal menjadi salah satu kunci agar industri komponen otomotif Indonesia makin kuat. Di sinilah pentingnya melihat otomotif tidak hanya sebagai industri kendaraan jadi, tetapi juga sebagai jaringan produksi yang panjang.
Paparan Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) dalam pemberitaan menunjukkan bahwa satu kendaraan ditopang sekitar 25.000 komponen individual dan ribuan perusahaan dalam rantai pasoknya, mulai dari pemasok bahan baku, pembuat single parts, component system, hingga machinery and tools industry.
Dengan struktur seperti itu, industri otomotif tidak cukup dijaga dari sisi hilir saja. Ketahanannya juga ditentukan oleh kedalaman basis produksi di dalam negeri. Semakin kuat pemasok lokal, semakin kecil ketergantungan pada impor.
Peluang industri untuk bertahan juga makin besar saat dunia menghadapi gangguan pasokan, volatilitas harga, atau tensi perdagangan. Pasar tertahan, transisi teknologi tak bisa ditunda Pasar mobil baru memang masih tertahan. Namun, pada saat yang sama, industri otomotif tidak bisa menunda transisi menuju kendaraan rendah emisi.
Artinya, tantangan industri kini menjadi berlapis. Pasar perlu dipulihkan, tetapi arah perubahan teknologi juga tidak bisa diabaikan. Pergeseran itu sudah mulai terlihat di pasar. Data Kemenperin menunjukkan, pangsa hybrid electric vehicle (HEV) di pasar roda empat naik dari 0,28 persen pada 2021 menjadi 7,26 persen pada periode Januari-Juni 2025.
Dalam periode yang sama, pangsa battery electric vehicle (BEV) melonjak dari 0,08 persen menjadi 9,77 persen. Namun, kenaikan pangsa kendaraan elektrifikasi tidak otomatis membuat struktur industrinya lebih sehat. Studi LPEM FEB UI menunjukkan bahwa selama fase insentif, pertumbuhan BEV masih banyak ditopang impor.