Kuasai Pasar Mobil Listrik, Otomotif China Masih Harus Belajar dari AS

Dominasi industri otomotif China di pasar global terus menguat, terutama pada segmen kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Meski demikian, di balik pertumbuhan pesat tersebut, pelaku industri mengingatkan bahwa produsen China masih memiliki pekerjaan rumah besar, khususnya dalam hal kualitas produk, pengalaman manufaktur, hingga penguatan merek di pasar internasional. Ketua Great Wall Motor (GWM), Wei Jianjun, menyebut masih terdapat kesenjangan yang cukup besar antara produsen China dengan pemain otomotif global mapan, termasuk dari Amerika Serikat (AS).

Dikutip INFORMASI OTOMOTIF, pernyataan itu disampaikan dalam rapat tahunan perusahaan pada awal Februari 2026, di tengah ekspansi agresif merek-merek China ke berbagai pasar dunia.

Dominasi Global Belum Menjamin Daya Saing Secara industri, capaian China memang impresif. Data China Passenger Car Association menunjukkan pangsa pasar otomotif global negara tersebut mencapai 35,6 persen pada 2025. Sepanjang tahun lalu, China menjual 34,35 juta unit kendaraan dari total pasar global sebesar 96,47 juta unit.

Angka tersebut tumbuh 9 persen secara tahunan dan memperlebar jarak dengan negara lain. Sebagai perbandingan, AS mencatat penjualan 16,72 juta unit, India 5,58 juta unit, Jepang 4,56 juta unit, dan Jerman 3,16 juta unit. Di sisi ekspor, China juga mempertahankan status sebagai eksportir kendaraan terbesar dunia selama tiga tahun berturut-turut.

Total ekspor mencapai 8,32 juta unit pada 2025, naik 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, kendaraan energi baru berkontribusi 3,43 juta unit atau melonjak 70 persen. Meski demikian, menurut Wei, skala produksi dan ekspor yang besar tidak boleh membuat produsen China terlalu percaya diri. Ia menilai perusahaan dari kawasan otomotif mapan seperti Amerika Serikat, Jepang, Jerman, dan Korea Selatan masih unggul dalam pengalaman manufaktur serta kedalaman teknologi.

Kualitas dan Reputasi Merek Wei menegaskan, industri otomotif China perlu belajar dari pendekatan produsen global dalam menjaga kualitas dan kepercayaan konsumen. Ia mencontohkan bagaimana Toyota Motor Corporation mampu mempertahankan loyalitas pelanggan meski kerap melakukan recall, karena perusahaan bersikap transparan dan cepat dalam menangani masalah. Selain itu, ia juga menyoroti risiko persaingan harga yang semakin agresif di pasar domestik.

Perang harga yang terlalu dalam dinilai berpotensi menekan profitabilitas dan mengganggu keberlanjutan bisnis jika tidak diimbangi dengan kualitas produk yang kuat. Di pasar internasional, strategi ekspansi produsen China juga dinilai masih bertumpu pada keunggulan harga. Ketergantungan pada faktor murah berisiko menghambat pembangunan citra merek dalam jangka panjang, terutama di pasar maju yang lebih sensitif terhadap reputasi, teknologi, dan layanan purna jual.

Ilustrasi mobil di China.

Secara kinerja, GWM membukukan penjualan global 1,3237 juta unit pada 2025, termasuk 403.700 kendaraan energi baru dan 506.100 unit pengiriman ke luar negeri. Kendaraan listrik dan elektrifikasi menyumbang sekitar 30 persen dari total penjualan. Kondisi ini berbeda dengan BYD yang telah sepenuhnya beralih ke produksi kendaraan energi baru dan menghentikan penjualan mobil bermesin pembakaran internal murni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *